Selasa, 09 Juni 2009

GHAUST Review Part 2

GHAUST ALBUM REVIEW BY WASTEDROCKERS
Saya selalu menjadi fans berat dari musik post-metal. Semenjak saya mendengarkan album-album era 90-an dari Neurosis, Tool, dan dari "The Mighty" The Melvins di masa-masa SMU. Jauh sebelum musik-musik tersebut menjadi populer berkat jasa Isis, Jesu, dkk. Juga jauh sebelum istilah sub-genre tersebut dicetuskan oleh para jurnalis musik. Dan di awal tahun 2007 ketika saya tahu kabar bahwa ada band asal Jakarta yang memainkan style post-metal, saya sangat girang bukan main!… Maka saya langsung berburu informasi mengenai keberadaan band tersebut.

Akhirnya, yang saya tunggu (mungkin juga oleh banyak orang)… debut album dari Ghaust! Sebelumnya Ghaust juga sempat mengirimkan promo-video nya ke redaksi Wasted Rockers sebagai trailer, namun rilisan ini lah yang saya paling nanti dari mereka!…

Sebuah LP yang berisi 6 tracks. Direkam oleh Iyub dari Santamonica di Sinjitos Studio. Hebatnya Iyub, dia sebagai recording-engineer berhasil mendapatkan sound ambiensi ruangan yang reverberasinya terasa optimal, cocok untuk band-band tipikal Ghaust. Menghasilkan sound rekaman yang lebar, namun tetap terasa jujur dan tidak berpretensi! Tidak ada kesan manipulatif yang biasa kita dengar dari rekaman-rekaman digital akhir-akhir ini… Sound drum live yang megah dan berat. Blocking bass yang low. Juga sound gitar yang heavy namun tetap renyah.

Bedanya Ghaust dengan band-band post metal lainnya adalah; mereka bisa fokus ke dua unsur penting lagu (tekstur dan struktur). Masih terasa sisi progresif dan keagresivitasannya. Jadinya tidak membosankan. Tidak seperti seperti band-band post-metal/rock lainnya yang (kebanyakan) hanya berfokus ke tekstur lagu, memainkan 3-4 kord yang sama, berulangkali dengan lambat selama 10 menit, karena hanya ingin mengedepankan atmosfir dari lagu saja. Mungkin hal ini didapat dari teknik drumming M.Edward yang improvisatif dan eksploratif, condong ke arah progressive-rock. Juga riff-riff gitar yang mendetil dari Uri Putra. Jadi, walaupun mereka hanya berdua, musiknya tetap terasa penuh!

Track-track favorit saya, yaitu: "Sleep and Release" dan "Torchlight". Walaupun kebanyakan lagu-lagu di LP ini bertempo sedang, melodik, penuh nuansa space-rock/post-rock/shoegazing, tapi ada juga tracks yang berat, brutal, agresif dan bertensi tinggi, seperti: "Akasia" dan "The Wolf and The Boar". Harapan saya buat Ghaust ke depannya adalah; mudah-mudahan musik mereka bisa lebih berkembang dan tidak terjangkit sindrom 'ke-wannabees-an' band/musisi lokal yang biasanya ingin menjadi (sama persis dengan) band/musisi yang mereka idolai…

Ghaust adalah sebuah 'angin segar' atau 'pencerahan' buat scene metal/heavy lokal. Salah satu debut LP lokal terbaik di tahun 2008! Tidak ada ragu mengenainya… [Dede]


GHAUST REVIEW BY APARATMATI (4/5)
Mungkin Ghaust adalah band instrumental, post metal pertama di Indonesia. Kecenderungan musik post metal memang kini sedang membesar, terlebih dengan semakin sukses grup-grup seperti Isis, Pelican, Red Sparowes dan lainnya. Tapi ini tidak membuat band seperti Ghaust hanya seperti melompat ke bandwagon sebuah genre namun juga membuktikannya dengan rilisan yang berkualitas. Album self-titled ini berisi 6 lagu yang penuh dengan aransemen menarik dan juga melodius. Pengaruh Pelican, Explosion In The Sky, Mogwai, dan Mono [Jepang] sangat terasa disini, juga kadang dari tersimak pengaruh doom metal.

Harmonisasi-harmonisasi cantik yang muncul seperti dalam lagu pertama, "The Day After [Entering Into Peace]" seakan menjadi penanda untuk lagu-lagu lainnya yang lebih menjanjikan. Dan benar saja, "Sleep And Release" membuka dengan harmonisasi yang cantik kembali.Duo Uri Putra [gitar & bass] dan M. Edward [drum] bermain cukup ciamik dan dinamis, seakan ada sesuatu alur psikadelik yang mereka ikuti, dan kemudian memasuki breakdown yang cukup doomy. Tapi sebelum terjebak ke monotonitas doom, Ghaust kemudian kembali menaikkan tempo dan kembali pecah dan ditutup dengan harmonisasi cantik.

Intro "Akasia" adalah straight forward metal dan heavy, cepat dan menghantam dalam waktu yang cukup lama sebelum kembali ke melodi-melodi cantik. Sepertinya "Akasia" adalah nomor tercepat dan ter-heavy dari Ghaust. Lagu lama dari demo awal mereka, "The Wolf And The Boar" nampaknya suda disempurnakan disini, dan dengan sound yang jauh lebih layak sepertinya lagu ini jauh lebih terepresentasikan.

Mastermind Uri Putra sangat serius menggarap album ini, dan rasanya proses enginereeng dan mixing oleh Joseph Saryuf di Sinjitos Records cukup berbicara. Untuk Joseph Saryuf juga ini proyek musik metalnya yang pertama dan berhasil dengan baik. Artwork album ini tidak terlalu impresif, mungkin sebenarnya masih bisa diulik dari bahan produk sehingga ketika menjadi satu kesatuan menjadi lebih cantik. Tapi toh musiknya sudah sangat berbicara, sehingga kekurangan ini minor.

Overall, sebuah debut yang menjanjikan dan top notch. My salutation goes to this band. [Arian13]


GHAUST REVIEW BY TRAX MAGAZINE (4/5)
Tak pernah terlintas dalam benak Uri A. Putra dan M. Edward menggiring nama Ghaust kedalam pelukan genre post metal. Boleh jadi Ghaust adalah band pertama diIndonesia yang bermain dalam irama instrumentalia yang begitu berat dan pelan layaknya Isis, Pelican atau struman doom ala Corrupted. Petualangan audio yang memikat mampu mereka curahkan dalam alunan yang melodius berdurasi 39 menit. Gulungan distorsi yang berat, aransemen patron yang melodius serta ambient yang tertata begitu megah membius totalkan dihampir seluruh tracknya. Nuansa yang gelap kerap menyelimuti disetiap langkah duo maut ini. Komposisi lagu yang kompleks dan sarat akan reverb serta delay menghiasi alunan simfoni yang tercipta. Ghaust mendorong kita kedalam sebuah petualangan baru yang indah untuk disimak, khususnya diIndonesia mereka siap membisik pelan dan kemudian bergemuruh dengan cantiknya. Recommended..!!! [Alvin]


GHAUST REVIEW BY DAB MAGZ (4/5)
Mungkin inilah band post-metal instrumental pertama diIndonesia yang merilis album mereka. Setelah sebelumnya kerap terdengar namanya dari teman-teman yang pernah menyaksikan band ini live, yang cukup nekad dan gila, paling tidak untuk scene Indonesia. Mereka hanya terdiri atas 2 personil yang memainkan gitar serta drum. Mereka pun memberikan kenekadan lagi dengan membuat musik tanpa vokal alias instrumental! Untuk gambaran simple, mungkin seperti mendengarkan kombinasi Isis atau Pelican dengan post-rock ala Explosion in the sky. Tembok sound yang dibangun melalui harmonisasi nan indah terwujud secara sempurna dan itu semua dihasilkan oleh aransemen yang matang, ditambah hasil recording yang clear dan natural. Album ini berisi 6 lagu yang direkam diSinjitos studio, Jakarta Selatan, dengan sound engineering oleh Joseph Saryuf(Santamonica). Sepertinya LP ini merupakan salah satu rilisan terbaik dalam scene nasional pada 2008, dan Indonesia akan bangga memiliki band seperti Ghaust. Benar-benar heavy sekaligus cantik. [Halim]


GHAUST REVIEW BY DEATHROCK STAR (8.9)
Adalah kotor dan beratnya distorsi gitar heavy metal, saking berat dan tebalnya menutupi dentuman drum. Dan semua itu tidak memerlukan vokal, sehingga sepanjang hampir 40 menit rilisan ini kita hanya akan mendapatkan heavy metal instrumental. Buat saya yang memang sangat menyukai distorsi berat, tebal dengan progresifitas chord a’la heavy/doom/sludge/stoner metal, rilisan ini adalah surga, karena seluruhnya adalah benar-benar hanya dominasi suara gitar yg berat. Dan saya bisa menulis 20 paragraph lagi, hanya untuk mengulang-ngulang betapa saya mensyukuri duo ini tetap menjadi duo, dan merilis album yang (lagi-lagi) berisi dominasi suara distorsi gitar. Mungkin lebih mudahnya, bayangkan High On Fire, Pelican, Black Sabbath, Torche, dkk kehilangan seluruh pemainnya, dan hanya menyisakan pemain gitar dan drum. Kira kira seperti itulah.