Senin, 08 Juni 2009

Ghaust Interview dan Review!

Interview oleh: Adi Renaldi

Sebuah prinsip keseimbangan, layaknya dua mata koin yang saling berkontradiksi. Ghaust hadir sebagai penyeimbang ditengah hingar bingar kancah musik keras saat ini. Meski band ini tidak bermaksud untuk “menyaingi” eksistensi musik cadas yang sudah lama eksis. Uri dan Edward membuat Ghaust sebagai sebuah medium untuk bersenang-senang dan berkreatifitas, tanpa peduli dengan berbagai macam fenomena dalam peta musik Indonesia. Band yang telah merilis sebuah album self-titled ini sedikit bercerita mengenai sepak terjang mereka lewat sebuah wawancara singkat via email. Simak jawaban-jawaban singkat namun padat berikut ini…

Seberapa besar pengaruh Justin Broadrick dan Dylan Carlson bagi kalian?
Cukup besar.. tapi ya sebatas influens aja tidak sampai menjadi tujuan.

Kenapa ngga mencoba split dengan Boris atau Mono?
kita si mau aja tapi mereka mau tidak ya..?

Inspirasi saat membuat album s/t kalian?
Gitar, amplifier dan drum

Single “Torchlight” yang kalian pasang di Myspace memberi nuansa yang gelap, indah, berat, lalu ngebut di sisi lain. Bagaimana proses-proses kalian saat mencipta lagu?
Tidak ada formula yang pasti dalam proses penciptaan sebuah lagu di Ghaust, semua bisa dimulai dari drum atau dari gitar, kadang barengan dari nge-jam juga bisa. kalo udah kepanjangan banget baru kita potong ambil part-part yang enak atau dibiarin begitu aja!

Ada “substansi-substansi” tertentu saat proses membuat lagu? Meth atau LSD mungkin?
kami tidak memakai zat2 atau substansi tertentu dalam membuat musik.

Musik kalian tergolong “avant-garde” dan belum awam untuk ukuran Indonesia, bagaimana kalian menyikapi trend “metal kekinian” akhir-akhir ini? Apa Ghaust adalah sebuah anti-tesis?
Dibiarin aja, namanya juga trend, nanti juga lewat dengan sendirinya kok. Ghaust sebagai antithesis? tidak usah menanggapi dengan seberat itu karena Ghaust dibentuk hanya untuk bersenang-senang! Kami tidak terlalu peduli juga dengan hal-hal seperti itu karena kami hanya ingin bermain musik bukan berpolitik dalam musik.

Influence terbesar kalian selain Kyuss?
Corrupted!

Label kalian yang baru juga dijalankan oleh salah seorang personel Ghaust (Uri), gimana tuh ngejalaninnya? Apa ngga ribet ngurus label dan band?
Uri :Enggak Kok. Karena labelnya memang belum diseriusin banget! Saat ini serius ngeband dan skripsi aja dulu.

Ghaust - s/t Album Review oleh : Adi Renaldi

Band ini kerap didefinisikan sebagai post-rock, post-metal, dan mungkin masih banyak lagi bentuk-bentuk pendefinisian musik mereka. Memang untuk mendeskripsikan musik mereka tidaklah mudah. Musik mereka membentuk suatu gambaran besar dan luas yang condong ke pembandingan kepada band-band sejenis macam Isis, Jesu, Earth, Pelican, atau Boris. Setelah sempat berkutat dengan demo ep mereka dan split dengan Bertanduk. Kini mereka kembali dengan full length yang membawa pikiran ke alam imajiner. Band yang dilahirkan dari penyatuan ide Uri dan Edward ini menyajikan suatu vibe yang dieksplor dari equipment standar. eksplorasi yang dimaksud tidak hanya dari segi sound maupun ketelitian teknis, namun juga percampuran berbagai macam genre yang membentuk kesatuan tunggal menjadi musik Ghaust. Ghaust tidak terjebak pada pola oposisi biner antara ngebut atau lambat, tapi ia secara alamiah berada di grey area. Bukan bermaksud plin-plan tapi itulah seni Ghaust, mempermainkan perasaan pendengar dengan cerdas. Doom/Ambient/Hardcore punk/down-tempo, bisa saja mendeskripsikan salah satu varian riff mereka, namun jelas tidak bisa mendeskripsikan satu kesatuan musik mereka. Maka kata yang tepat mungkin hanyalah “sound of Ghaust”.