Selasa, 09 Juni 2009

UP NEXT!

GHAUST akan melakukan split 7" dengan Pazahora, band heavy crust hardcore asal singapore. Split 7" ini akan dirilis oleh Epidemic records dari Singapore!

Tidak lupa juga,
- Split CD Dengan Aseethe. Masih dalam tahap menyelesaikan materi lagu. 2 lagu baru untuk rilisan ini. akan dirilis oleh Cactus Records dari Malaysia.
- Split 7" dengan BLCKWVS. Akan segera masuk kedalam tahap produksi, setelah tertunda beberapa waktu. dirilis oleh Nooirax records dari Spain.

GHAUST Review Part 2

GHAUST ALBUM REVIEW BY WASTEDROCKERS
Saya selalu menjadi fans berat dari musik post-metal. Semenjak saya mendengarkan album-album era 90-an dari Neurosis, Tool, dan dari "The Mighty" The Melvins di masa-masa SMU. Jauh sebelum musik-musik tersebut menjadi populer berkat jasa Isis, Jesu, dkk. Juga jauh sebelum istilah sub-genre tersebut dicetuskan oleh para jurnalis musik. Dan di awal tahun 2007 ketika saya tahu kabar bahwa ada band asal Jakarta yang memainkan style post-metal, saya sangat girang bukan main!… Maka saya langsung berburu informasi mengenai keberadaan band tersebut.

Akhirnya, yang saya tunggu (mungkin juga oleh banyak orang)… debut album dari Ghaust! Sebelumnya Ghaust juga sempat mengirimkan promo-video nya ke redaksi Wasted Rockers sebagai trailer, namun rilisan ini lah yang saya paling nanti dari mereka!…

Sebuah LP yang berisi 6 tracks. Direkam oleh Iyub dari Santamonica di Sinjitos Studio. Hebatnya Iyub, dia sebagai recording-engineer berhasil mendapatkan sound ambiensi ruangan yang reverberasinya terasa optimal, cocok untuk band-band tipikal Ghaust. Menghasilkan sound rekaman yang lebar, namun tetap terasa jujur dan tidak berpretensi! Tidak ada kesan manipulatif yang biasa kita dengar dari rekaman-rekaman digital akhir-akhir ini… Sound drum live yang megah dan berat. Blocking bass yang low. Juga sound gitar yang heavy namun tetap renyah.

Bedanya Ghaust dengan band-band post metal lainnya adalah; mereka bisa fokus ke dua unsur penting lagu (tekstur dan struktur). Masih terasa sisi progresif dan keagresivitasannya. Jadinya tidak membosankan. Tidak seperti seperti band-band post-metal/rock lainnya yang (kebanyakan) hanya berfokus ke tekstur lagu, memainkan 3-4 kord yang sama, berulangkali dengan lambat selama 10 menit, karena hanya ingin mengedepankan atmosfir dari lagu saja. Mungkin hal ini didapat dari teknik drumming M.Edward yang improvisatif dan eksploratif, condong ke arah progressive-rock. Juga riff-riff gitar yang mendetil dari Uri Putra. Jadi, walaupun mereka hanya berdua, musiknya tetap terasa penuh!

Track-track favorit saya, yaitu: "Sleep and Release" dan "Torchlight". Walaupun kebanyakan lagu-lagu di LP ini bertempo sedang, melodik, penuh nuansa space-rock/post-rock/shoegazing, tapi ada juga tracks yang berat, brutal, agresif dan bertensi tinggi, seperti: "Akasia" dan "The Wolf and The Boar". Harapan saya buat Ghaust ke depannya adalah; mudah-mudahan musik mereka bisa lebih berkembang dan tidak terjangkit sindrom 'ke-wannabees-an' band/musisi lokal yang biasanya ingin menjadi (sama persis dengan) band/musisi yang mereka idolai…

Ghaust adalah sebuah 'angin segar' atau 'pencerahan' buat scene metal/heavy lokal. Salah satu debut LP lokal terbaik di tahun 2008! Tidak ada ragu mengenainya… [Dede]


GHAUST REVIEW BY APARATMATI (4/5)
Mungkin Ghaust adalah band instrumental, post metal pertama di Indonesia. Kecenderungan musik post metal memang kini sedang membesar, terlebih dengan semakin sukses grup-grup seperti Isis, Pelican, Red Sparowes dan lainnya. Tapi ini tidak membuat band seperti Ghaust hanya seperti melompat ke bandwagon sebuah genre namun juga membuktikannya dengan rilisan yang berkualitas. Album self-titled ini berisi 6 lagu yang penuh dengan aransemen menarik dan juga melodius. Pengaruh Pelican, Explosion In The Sky, Mogwai, dan Mono [Jepang] sangat terasa disini, juga kadang dari tersimak pengaruh doom metal.

Harmonisasi-harmonisasi cantik yang muncul seperti dalam lagu pertama, "The Day After [Entering Into Peace]" seakan menjadi penanda untuk lagu-lagu lainnya yang lebih menjanjikan. Dan benar saja, "Sleep And Release" membuka dengan harmonisasi yang cantik kembali.Duo Uri Putra [gitar & bass] dan M. Edward [drum] bermain cukup ciamik dan dinamis, seakan ada sesuatu alur psikadelik yang mereka ikuti, dan kemudian memasuki breakdown yang cukup doomy. Tapi sebelum terjebak ke monotonitas doom, Ghaust kemudian kembali menaikkan tempo dan kembali pecah dan ditutup dengan harmonisasi cantik.

Intro "Akasia" adalah straight forward metal dan heavy, cepat dan menghantam dalam waktu yang cukup lama sebelum kembali ke melodi-melodi cantik. Sepertinya "Akasia" adalah nomor tercepat dan ter-heavy dari Ghaust. Lagu lama dari demo awal mereka, "The Wolf And The Boar" nampaknya suda disempurnakan disini, dan dengan sound yang jauh lebih layak sepertinya lagu ini jauh lebih terepresentasikan.

Mastermind Uri Putra sangat serius menggarap album ini, dan rasanya proses enginereeng dan mixing oleh Joseph Saryuf di Sinjitos Records cukup berbicara. Untuk Joseph Saryuf juga ini proyek musik metalnya yang pertama dan berhasil dengan baik. Artwork album ini tidak terlalu impresif, mungkin sebenarnya masih bisa diulik dari bahan produk sehingga ketika menjadi satu kesatuan menjadi lebih cantik. Tapi toh musiknya sudah sangat berbicara, sehingga kekurangan ini minor.

Overall, sebuah debut yang menjanjikan dan top notch. My salutation goes to this band. [Arian13]


GHAUST REVIEW BY TRAX MAGAZINE (4/5)
Tak pernah terlintas dalam benak Uri A. Putra dan M. Edward menggiring nama Ghaust kedalam pelukan genre post metal. Boleh jadi Ghaust adalah band pertama diIndonesia yang bermain dalam irama instrumentalia yang begitu berat dan pelan layaknya Isis, Pelican atau struman doom ala Corrupted. Petualangan audio yang memikat mampu mereka curahkan dalam alunan yang melodius berdurasi 39 menit. Gulungan distorsi yang berat, aransemen patron yang melodius serta ambient yang tertata begitu megah membius totalkan dihampir seluruh tracknya. Nuansa yang gelap kerap menyelimuti disetiap langkah duo maut ini. Komposisi lagu yang kompleks dan sarat akan reverb serta delay menghiasi alunan simfoni yang tercipta. Ghaust mendorong kita kedalam sebuah petualangan baru yang indah untuk disimak, khususnya diIndonesia mereka siap membisik pelan dan kemudian bergemuruh dengan cantiknya. Recommended..!!! [Alvin]


GHAUST REVIEW BY DAB MAGZ (4/5)
Mungkin inilah band post-metal instrumental pertama diIndonesia yang merilis album mereka. Setelah sebelumnya kerap terdengar namanya dari teman-teman yang pernah menyaksikan band ini live, yang cukup nekad dan gila, paling tidak untuk scene Indonesia. Mereka hanya terdiri atas 2 personil yang memainkan gitar serta drum. Mereka pun memberikan kenekadan lagi dengan membuat musik tanpa vokal alias instrumental! Untuk gambaran simple, mungkin seperti mendengarkan kombinasi Isis atau Pelican dengan post-rock ala Explosion in the sky. Tembok sound yang dibangun melalui harmonisasi nan indah terwujud secara sempurna dan itu semua dihasilkan oleh aransemen yang matang, ditambah hasil recording yang clear dan natural. Album ini berisi 6 lagu yang direkam diSinjitos studio, Jakarta Selatan, dengan sound engineering oleh Joseph Saryuf(Santamonica). Sepertinya LP ini merupakan salah satu rilisan terbaik dalam scene nasional pada 2008, dan Indonesia akan bangga memiliki band seperti Ghaust. Benar-benar heavy sekaligus cantik. [Halim]


GHAUST REVIEW BY DEATHROCK STAR (8.9)
Adalah kotor dan beratnya distorsi gitar heavy metal, saking berat dan tebalnya menutupi dentuman drum. Dan semua itu tidak memerlukan vokal, sehingga sepanjang hampir 40 menit rilisan ini kita hanya akan mendapatkan heavy metal instrumental. Buat saya yang memang sangat menyukai distorsi berat, tebal dengan progresifitas chord a’la heavy/doom/sludge/stoner metal, rilisan ini adalah surga, karena seluruhnya adalah benar-benar hanya dominasi suara gitar yg berat. Dan saya bisa menulis 20 paragraph lagi, hanya untuk mengulang-ngulang betapa saya mensyukuri duo ini tetap menjadi duo, dan merilis album yang (lagi-lagi) berisi dominasi suara distorsi gitar. Mungkin lebih mudahnya, bayangkan High On Fire, Pelican, Black Sabbath, Torche, dkk kehilangan seluruh pemainnya, dan hanya menyisakan pemain gitar dan drum. Kira kira seperti itulah.

GHAUST Review Part 1

GHAUST REVIEW BY APOKALIP WEBZINE (5/6)
Kami tidak berusaha bermain indah, maka estetika bukan menjadi daya tarik kami. Musik kami tidaklah demi sensasi telinga, melainkan merupakan konsistensi dalam bermain musik. Walaupun beresiko menimbulkan rasa bosan, tetapi di sisi lain musik kami begitu persuasif." Begitu kalimat yang saya baca dari press release album perdana Ghaust yang sudah dilempar ke pasar baru-baru ini. Pasar?! Saya kurang paham apakah musik yang mereka mainkan memiliki 'pasar' di negeri ini. Tapi yang saya tahu, banyak teman-teman metalhead yang tiba-tiba suka pada Isis, Pelican atau Jesu. Setidaknya dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini, jenis musik post-metal [atau apapun namanya] cukup mencuri hati dan telinga. Namun ini tidak serta merta bisa disebut 'lagi trend' atau 'sedang musim'. Sebab genre ini masih tetap segmented dan eksklusif. Sedikit agak happening untuk konsumsi telinga tertentu mungkin iya. Sebab kegalauan musik metal memang ada pada genre post-metal ini. Saya selalu suka jika menemukan sesuatu yang baru dari band lokal dan ikut memperkaya katalog musik tanah air. Seperti Ghaust yang sedari dulu sudah disebut sebagai ancaman dan berbahaya, setidaknya menurut prediksi situs Apokalip atau media lainnya. Rekaman ini lalu hadir dan cukup membuktikan hipotesa tersebut. Day After [Entering Into peace] bergerak lambat dan berat. Dumb and doomy. Versi demonya sudah pernah ada di halaman MySpace mereka. Selaras dengan titel track kedua, Sleep and Release, cukup menina-bobokan serta melepaskan beban. Set yang rileks, juga tak peduli hari esok. TorchLight tampak lebih soft dengan presisi riff gitar yang makin intens. Instrumentasi yang bertehnik dan rapi. Dilanjutkan Akasia yang mengawal cepat dan membabi-buta. Untuk kemudian meliuk-liuk di batas sound yang keras. Meluncur bersama riff dan petikan gitar nan lembut serta tempo beat yang dikawal ketat oleh ketukan drum. The Wolf and The Boar mengalun datar tanpa gejolak yang berarti. Sepi, seperti hutan gersang tanpa lolongan serigala di malamnya. Pesona samudera luas dan tenggelamnya batin disajikan secara mendalam pada At Sea [We Are Nothing]. Ada bagian yang upbeat juga di sini. Anda masih diberi kesempatan untuk menggoyangkan kepala. Sejenak saja, sebelum track ini berakhir dengan buaian sound kalem yang ramai. Well, album ini memang menawarkan petualangan audio yang intim dan cukup personal. Mungkin terlalu mengerikan jika saya menyebut musik Ghaust cukup berat, rumit, atau bukan untuk konsumsi awam. Kesannya sangat tertutup dan sombong sekali. Untuk itu saya musti koreksi sedikit kalimat mereka di awal review tadi. Musik mereka indah dan cukup estetik. Tidak juga membosankan, tapi memang benar kalau persuasif. Meski dalam durasi lumayan panjang namun tetap mengena. Berusaha untuk efektif memang tidak harus efisien. Kadang perlu ada brain-storming dan eksplorasi. Mendengarkan Ghaust seperti menjalani sebuah pengalaman. Jalani saja, tidak perlu pakai teori atau rumus. Layaknya ini ujian dan tantangan, pemahamannya baru akan datang di akhir sesi setelah mengawang bersama Ghaust. Album ini adalah proses dan trigger yang dapat memantapkan kapasitas pendengarnya sebagai 'penemu'. Tugas mereka hanya mencipta, sementara tugas anda adalah untuk menemukan. Ghaust telah mengajarkan kita bagaimana untuk berinteraksi dengan musik tanpa harus ikut bernyanyi, atau bahkan bergerak... [Samack]


GHAUST REVIEW BY ROLLING STONE INDONESIA (4/5)
Menarik bila melihat perkembangan musik khususnya diskena musik rock/metal zaman sekarang. Terobosan terbaru didaratan Amerika dan Eropa adalah genre post metal, dimana kegaharan atau ekspresi primal yang menderu-deru kini mulai digantikan atau dicampur dengan elemen-elemen lain seperti indiepop, noise rock, dan lainnya. Dan untuk pertama kalinya diIndonesia (bahkan disinyalir di Asia Tenggara), ada rilisan jenis musik ini. Indonesia beruntung karena upaya pertama genre ini dilakukan dengan ekstra apik, merupakan karya otak musik bernama Uri Putra dan bandnya yang bernama Ghaust. Selain influens band macam Pelican, Mono, dan Isis, band ini juga menggabungkan tempo lambat khas post metal dengan beberapa bumbu lainnya yang lezat dan pedas seperti nuansa doom metal ala Corrupted, indie ala Ride, dan juga gilasan hardcore punk seperti Amebix, yang membuat sebuah warna baru yang jauh dari membosankan. Dibuka dengan "Day After (entering into peace)" yang tribal dan bernada manis, kemudian "Torchlight" akan membuat kita terdiam, terpaku, dan mengagumi cerdasnya pilihan denting nada yang demikian cantik dengan balutan efek suara reverb dan delay yang meruang. Album ini dipenuhi komposisi berdurasi panjang namun merupakan ekshibisi kreativitas lagu yang berpetualang. Akhir kata, Ghaust adalah sebuah cerita indah, sungguh menarik disimak, dan membuat penasaran akan apa yang bakal terjadi berikutnya. Untuk sebuah karya Instrumental yang 'bisu', Ghaust telah berbicara banyak. [Ricky Siahaan]


GHAUST REVIEW BY THE JAKARTA POST
Post-rock, in case you're a neophyte, is a genre of alternative rock defined by the use of common rock instruments for non-rock purposes. Guitars and drums are standard, but the rhythms, harmonies, melodies, timbre, and chord progressions used are not found in the rock tradition.

Basically, your typical post-rock song will consists of long guitar jams that explore layers of sound in order to create a certain mood. It is a genre that requires not only great technical skill, but a strong melodic imagination.

There is quite a considerable number of bands out there in our local scene that dabble in post-rock. Most of them border on only just decent, simply because they lack imagination. There are even fewer bands here that play hardcore post-rock, the darker side of this musical dream-weaving, as this subgenre requires technical mastery and a lucid imagination; which narrows the field of play tremendously.

South Jakarta-based GHAUST is one band, however, that manges to thrive beautifully in this dimly lit alley of post-rock. The nightmares constructed by this collective (comprised of Uri A. Putra (guitar) and M. Edward (drums)) are built with the utmost precision. The layering of instruments, the slow but steady progression of hard chords, the grinding distortions and the calculated drums are dispersed in careful doses that guide the listener through each space of the somber realm of their musical machinations.

After a few online releases, as well as participation in various compilations, this year saw the release of GHAUST's self-titled full length debut LP, available nationwide through Purbaharuan Recordings. This powerhouse of an album is guaranteed to take you to corners of your imagination previously untouched by other bands. This record is truly mind-blowing; as you read, I'm still picking up the pieces of my brain that were scattered across the floor upon my first listen. It immediately gets a place on my list of 2008's Top Five Local Releases.

GHAUST is an experience the listener would never want to, or be able to forget. Their music will seep into the nooks and crannies of your mind and build little grim empires in your subconscious. I am truly curious as to how their sound will evolve in the future. I will definitely keep my eyes on these guys.

Enough of the grand descriptions, you can learn more about GHAUST firsthand and give a listen to their brilliant pieces at www.myspace.com/soundofghaust. Be sure to leave them some nice comments. Their self-titled debut LP is now available. For a complete listing of record stores that sell the CD, check their myspace page. Be sure to buy it! [Paul F. Agusta]

Things to come [update]


Right now we working on this various other split/projects that will hopefully see the light of day by the end of 2009/early 2010. Here is just a short list of releases in the works.

- GHAUST/BLCKWVS - split 7" - Nooirax Records
- GHAUST/ASEETHE - split CD - Cactus Records
- GHAUST/PAZAHORA - split 7" - Epidemic Records
- GHAUST/IBLIS KOTOR - collaboration EP - TBA

Senin, 08 Juni 2009

Ghaust Interview dan Review!

Interview oleh: Adi Renaldi

Sebuah prinsip keseimbangan, layaknya dua mata koin yang saling berkontradiksi. Ghaust hadir sebagai penyeimbang ditengah hingar bingar kancah musik keras saat ini. Meski band ini tidak bermaksud untuk “menyaingi” eksistensi musik cadas yang sudah lama eksis. Uri dan Edward membuat Ghaust sebagai sebuah medium untuk bersenang-senang dan berkreatifitas, tanpa peduli dengan berbagai macam fenomena dalam peta musik Indonesia. Band yang telah merilis sebuah album self-titled ini sedikit bercerita mengenai sepak terjang mereka lewat sebuah wawancara singkat via email. Simak jawaban-jawaban singkat namun padat berikut ini…

Seberapa besar pengaruh Justin Broadrick dan Dylan Carlson bagi kalian?
Cukup besar.. tapi ya sebatas influens aja tidak sampai menjadi tujuan.

Kenapa ngga mencoba split dengan Boris atau Mono?
kita si mau aja tapi mereka mau tidak ya..?

Inspirasi saat membuat album s/t kalian?
Gitar, amplifier dan drum

Single “Torchlight” yang kalian pasang di Myspace memberi nuansa yang gelap, indah, berat, lalu ngebut di sisi lain. Bagaimana proses-proses kalian saat mencipta lagu?
Tidak ada formula yang pasti dalam proses penciptaan sebuah lagu di Ghaust, semua bisa dimulai dari drum atau dari gitar, kadang barengan dari nge-jam juga bisa. kalo udah kepanjangan banget baru kita potong ambil part-part yang enak atau dibiarin begitu aja!

Ada “substansi-substansi” tertentu saat proses membuat lagu? Meth atau LSD mungkin?
kami tidak memakai zat2 atau substansi tertentu dalam membuat musik.

Musik kalian tergolong “avant-garde” dan belum awam untuk ukuran Indonesia, bagaimana kalian menyikapi trend “metal kekinian” akhir-akhir ini? Apa Ghaust adalah sebuah anti-tesis?
Dibiarin aja, namanya juga trend, nanti juga lewat dengan sendirinya kok. Ghaust sebagai antithesis? tidak usah menanggapi dengan seberat itu karena Ghaust dibentuk hanya untuk bersenang-senang! Kami tidak terlalu peduli juga dengan hal-hal seperti itu karena kami hanya ingin bermain musik bukan berpolitik dalam musik.

Influence terbesar kalian selain Kyuss?
Corrupted!

Label kalian yang baru juga dijalankan oleh salah seorang personel Ghaust (Uri), gimana tuh ngejalaninnya? Apa ngga ribet ngurus label dan band?
Uri :Enggak Kok. Karena labelnya memang belum diseriusin banget! Saat ini serius ngeband dan skripsi aja dulu.

Ghaust - s/t Album Review oleh : Adi Renaldi

Band ini kerap didefinisikan sebagai post-rock, post-metal, dan mungkin masih banyak lagi bentuk-bentuk pendefinisian musik mereka. Memang untuk mendeskripsikan musik mereka tidaklah mudah. Musik mereka membentuk suatu gambaran besar dan luas yang condong ke pembandingan kepada band-band sejenis macam Isis, Jesu, Earth, Pelican, atau Boris. Setelah sempat berkutat dengan demo ep mereka dan split dengan Bertanduk. Kini mereka kembali dengan full length yang membawa pikiran ke alam imajiner. Band yang dilahirkan dari penyatuan ide Uri dan Edward ini menyajikan suatu vibe yang dieksplor dari equipment standar. eksplorasi yang dimaksud tidak hanya dari segi sound maupun ketelitian teknis, namun juga percampuran berbagai macam genre yang membentuk kesatuan tunggal menjadi musik Ghaust. Ghaust tidak terjebak pada pola oposisi biner antara ngebut atau lambat, tapi ia secara alamiah berada di grey area. Bukan bermaksud plin-plan tapi itulah seni Ghaust, mempermainkan perasaan pendengar dengan cerdas. Doom/Ambient/Hardcore punk/down-tempo, bisa saja mendeskripsikan salah satu varian riff mereka, namun jelas tidak bisa mendeskripsikan satu kesatuan musik mereka. Maka kata yang tepat mungkin hanyalah “sound of Ghaust”.

Ghaust Interview with Freemagz!

Ghaust?? Nama band yang satu ini mungkin belum familiar di telinga anda. Namun bagi anda yang ingin mencoba mendengarkan musik yang sedikit berbeda, anda harus mencoba karya dari band instrumental ini. Free! pun tertarik dengan band yang terlahir dari idealisme Uri A. Putra dan M. Edward ini, karena dengan penggabungan unsur metal, doom, post rock dan ambient, lahirlah sebuah sound unik yang hanya bisa disebut sebagai “musik Ghaust”. Berikut adalah interview singkat Free! dengan 'entitas' yang sedang mencoba membuktikan eksistensinya dalam dunia musik rock Indonesia ini.

Menurut kalian sound Ghaust kayak apa sih?
Uri : Heavy, berat dan berestetika dengan melodi yang dihasilkan di dalam musiknya Ghaust

Band apa saja sih yang menjadi influence kalian?
Uri : Earth, Pelican, Corrupted, Tool, Black Sabbath. Cenderung band-band doom dan juga progressive rock.
Edo : Band-band punk rock seperti Pennywise. Kita memang mendengarkan referensi musik yang berbeda namun kita berusaha untuk bisa menyatukan satu visi musik yang sama.

Track-track dalam album kalian kan sebenarnya dinamis, tidak terlalu repetitif dalam build up-nya, juga melodius tapi terkadang juga cenderung menyentuh teritori doom. Apakah itu yang menjadi ciri khas Ghaust?
Uri : Awalnya sih Ghaust emang dibuat untuk memainkan musik doom, tapi untuk ngedapetin parts drumnya tuh susah dan walaupun bisa lama-lama jadi terdengar basi. Bayangin aja dengan durasi lagu sampe 8-10 menit drumnya lambat terus, akhirnya mulai dimasukin tempo mid dan tempo cepatnya juga.

Berapa lama pengerjaan album kalian ini?

Sekitar 1,5 tahun

Kenapa Ghaust hanya berdua?
Uri : Pada awalnya sih Ghaust bertiga ada pemain bas-nya, tapi karena harus bekerja di Lampung akhirnya dia keluar dan belum sempet nyari pengganti. Akhirnya karena gak ada yang sevisi jadi berdua. Gua maen guitar dan Edo maen drum.

Dalam 6 track yang terdapat dalam album kalian, yang mana track favourite kalian?
Uri : At Sea We Are Nothing, karena di lagu ini komposisinya paling balance dan lengkap. Mid-nya ada, cepetnya ada sampe pelannya juga ada dan komposisinya bener-bener dipikirin gak asal pasang.
Edo : Akasia karena di lagu ini, ketukan drumnya merupakan ciri khas gue maen drum.

Seandainya track-track dalam album kalian diisi dengan lirik, apa tema liriknya?
Uri : Kalau gue mungkin bercerita tentang hutan, bulan dan laut (metafora)
Edo : Kalau gue mungkin temanya bercerita tentang masalah sosial dan lingkungan hidup

Bagaimana pandangan kalian terhadap perkembangan scene post metal di Indonesia?
Ghaust : Perkembangannya cukup lambat dan walaupun berkembang tidak akan terlalu besar, besarnya kayak segini aja. Bukannya mengeksklusifkan atau mempersulit tapi emang sudah sulit. Yang penting eksistensinya, mainin musiknya aja.

Jika ada kesempatan berkolaborasi dengan musisi manapun, baik luar atau dalam negeri. Siapa yang akan kalian ajak?
Uri : Trigger Mortis & Boris
Edo : Kelelawar Malam (Band Horror Punk Jakarta), Russian Circle

Ada rencana untuk melakukan promo album kalian tidak?
Kalau promo keyaknya enggak, kalaupun ada uang lebih mendingan untuk buat materi baru. Dan akhir tahun 2009 ada rencana split album dengan band Aseethe (U.S.A), yang kebetulan mereka juga mau tour Asia.

Right Speaker Heavy - for Ghaust


WOW!!!

We really love this song and completely stunned at how good this is! Thank you to Ghopal and Right Speaker Heavy for dedicated this beautiful material to us, this has been a real and pleasant surprise.

.........

Reginald and Ghopal (and yes, me too) are fans of the band Ghaust, so we decided to dedicate the new piece to them. Granted, our song sounds nothing like Ghaust – but that’s not the point. We’re just big fans of their sound and style of rock! Go check them out and pick up their new album.

The instruments used for “For Ghaust” are the zhong ruan, a small gong and an Indonesian drum. All sounds recorded with the Tascam DR-1 and mixed using Acid Pro 4. Regi mixed it and said it was his first time ever using Acid. Neat, eh?

Expect more weirdness soon!

~ Morton

.........

Please check Right Speaker Heavy band myspace to listening the song : Right Speaker Heavy

or

Download
@ Megaupload


**Buy their new records.
It's a Great Psychedelic/folk/drone music and the packaging from Each records is a hand made. Totally Awesome!

Ghaust - At Sea(we are nothing) Live @ Rossi Musik

GHAUST WELCOMES YOU!

Okay, this is our official blog site .

Formed in early August 2005 (Jakarta, Indonesia). With only two members, Ghaust is now restoring an Heavy Instrumental composition to it's authority!

GHAUST DEBUT ALBUM OUT NOW!!
Available on CD from Purbaharuan Recordings and Cassette from Third Arm Records.


"This debut album contains 6 tracks/39 minute running time. Ghaust build a instrumental trip crossing through different genres, where post-rock/shoegaze influences, crushing sludge/doom tempo, collide with hardcore/punk and heavy rock"

Email us if you want to buy the CD : soundofghaust@yahoo.com
Ghaust on Myspace